Selama 1 tahun terakhir ini operator telekomunikasi di Indonesia bersaing memberikan tarif murah. Imbasnya, terbentuk tren sistem telekomunikasi dari tarif mahal hanya bicara sebentar menjadi tarif murah bisa bicara sepuasnya.
Bahkan pengguna telekomunikasi ikut mengalami pergeseran dari kalangan masyarakat kota, mapan dan dewasa melebar ke masyarakat pedesaan, menengah ke bawah dan anak sekolah. Tren dan pergeseran ini diakui HERU SUTADI anggota Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI).
HERU menjelaskan, tarif murah yang ditawarkan operator adalah tarif terjangkau. Artinya, tarif disesuaikan dengan daya beli masyarakat sehingga lapisan manapun bisa melakukan komunikasi dengan mudah, cepat dan murah.
”Operator mengambil perhitungan dari interkoneksi lebih murah, ketersambungan jaringan antar operator murah sehingga tarif ke konsumen juga lebih murah. Jadi memang ada kecenderungan ke arah konsumen surplus dengan diuntungkan kualitas layanan dengan tarif terjangkau,” tukas HERU.
BRTI, kata HERU, menyikapi tarif murah dari operator dengan memberikan standar minimal layanan dan masa transisi 3 bukan. Bagi operator yang tidak memenuhi standar tersebut akan terkena sanksi denda uang yang besarannya sedang digodhok pemerintah. Ini sekaligus aplikasi dari UU No36/1996 tentang Layanan Telekomunikasi dan UU No 8/1999 tentang Perlindungan Konsumen.
”Di sisi konsumen, kita juga berharap mereka bisa menggunakan layanan telekomunikasi secara cerdas dan cermat. Artinya tidak serta merta tarif murah lantas konsumen berfoya-foya menghabiskan pulsa maupun cermat dengan melihat persyaratan yang ada dalam iklan tarif murah,”tambahnya.
Sementara itu, ERIK AAS Presiden Direktur dan CEO Axis dihubungi terpisah mengatakan tren ke depan sistem telekomunikasi di Indonesia memang seperti itu. Artinya, para operator berebut memberikan tarif lebih kompetitif didukung teknologi terbaru.
Hal itu merupakan kebutuhan bagi konsumen. ”Bagi masyarakat yang selama ini belum punya akses komunikasi, akhirnya bisa masuk ke sana. Tarif kompetitif atau tarif terjangkau akan membuat kemauan dan kemampuan konsumen di Indonesia bisa terpenuhi. Sementara industri telekomunikasi merespon dengan harga affordable,”paparnya.
ERIK mengatakan dengan tarif terjangkau sangat berpengaruh terhadap peningkatan jumlah pelanggan. Seperti halnya, Axis sendiri yang baru masuk ke industri telekomunikasi pada Februari 2008 diawali di Surabaya, sampai Oktober berhasil mendapatkan 2 juta pelanggan.
”Padahal target kita akhir 2008 adalah 2 juta pelanggan. Namun belum sampai Desember akhir sudah terpenuhi target. Dengan tarif terjangkau, kita bidik semua kalangan yang selama ini belum memiliki akses berkomunikasi termasuk anak sekolah,”pungkasnya.
10 November 2008
Tarif Murah Picu Pergeseran Pengguna Telekomunikasi
article by
nyaksablon
jam
02.05
Langganan:
Posting Komentar (Atom)





0 komentar:
Posting Komentar